Sebagian besar para ahli antropologi sepakat bahwa kebudayaanlah yang telah membentuk makhluk manusia, dan bukan alam atau sekitarnya. Keberhasilan mereka menundukkan alam sekitarnya adalah bukti keberhasilan mereka mencapai suatu tingkat kebudayaan yang lebih tinggi. Makhluk manusia selalu berupaya untuk menyesuaikan dirinya dengan berbagai perubahan yang terjadi di sekitarnya sehingga melahirkan suatu pola-pola tingkah laku yang baru. Oleh karena lingkungan alam berbeda-beda, maka terdapat berbagai bentuk adaptasi di kalangan makhluk manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, mampu merubah alam sekitarnya; dan akhirnya perubahan-perubahan yang ditimbulkannya akan selalu diarahkan kepada makhluk manusia.
Mengingat berbagai kajian dan berbagai bentuk perubahan hubungan sosial di kalangan suku-suku bangsa di Indonesia belum dikaji secara mendalam, pengetahuan para pakar ilmu-ilmu sosial termasuk para ahli antropologi di Indonesia,dirasa masih kurang memadsai dibandingkan dengan permasalahan yang ada. Apalagi kompleksitas dan dinamika perubahan yang terjadi berjalan dengan cepat. Sebagai akibatnya, keadaan semacam itu akan mempersulit para pembuat kebikjaksanaan melakukan intervensi dalam rangka implementasi program pembangunan.
Berbagai implikasi yang timbul, bukan hanya sebagai akibat dari implementasi program pembangunan semata, melainkan tampak pula sebagai akibat suatu perencanaan pembangunan di semua tingkatan. Oleh karenanya dituntut suatu pembenahan instrusional secara integrated. Selain itu, seharusnya suatu intervensi treatment guna penyempurnaan suatu program dapat dilakukan secara tepat jika berbagai proses yang terjadi dalam pembangunan dinilai sebagai hal yang sama pentingnya dengan program pembangunan itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar